Sarilamak, (Antara) – Masyarakat Nagari Koto Tuo Kabupaten Limapuluh Kota bersama pemerintah setempat memperingati peristiwa sejarah “Koto Tuo Lautan Api” pada saat Agresi Belanda II tahun 1949 yang dipusatkan di Jorong Tanjung, Senin.

Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo yang ikut menghadiri acara tersebut mengatakan peristiwa Koto Tuo Lautan Api tersebut merupakan bukti nyata masyarakat Limapuluh Kota, khususnya masyarakat Koto Tuo ikut ambil andil dalam mempertahankan NKRI pada masa agresi Belanda II, seiring dengan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

“Kita berharap peringatan ini tidak hanya sebagai sebuah saremoni, tetapi momen untuk meningkatkan rasa nasionalisme warga Limapuluh Kota,” kata dia.

Menurutnya, peringatan sejumlah peristiwa sejarah di Kabupaten Limapuluh Kota dalam berapa tahun belakangan sudah mulai rutin dilaksanakan setelah ada dasar hukum melalui peraturan bupati.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Arif Malano dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, peristiwa Koto Tuo Lautan Api bermula dari dibentuknya Pasukan Mobil Teras (PMT) di Kanagarian Lubuak Batingkok. Salah satu komandan pletonnya yang kemudian berperan besar dalam peristiwa itu bernama Darisun berasal dari Koto Nan Gadang.

Pleton itu menyergap iring-iringan tentara Belanda yang ingin menyisir daerah Tanjung Pati dan Batu Balang. Penyergapan dilakukan di jembatan Padang Gantiang.

Seorang perwira dan beberapa orang tentara Belanda diyakini terkena tembakan pejuang pada waktu itu hingga ada yang meninggal meskipun tidak diketahui jumlah pastinya.

Sebagai bukti, satu hari setelah kejadian itu, di beberapa kantor Belanda di Payakumbuh dinaikkan bendera merah putih biru setengah tiang.

Peristiwa itu memicu kemarahan Belanda. Mereka mengeluarkan ultimatum agar pejuang menyerah, kalau tidak daerah Tanjung Pati, Pulutan, Koto Tuo dan Batu Balang akan dibumi hanguskan.

Karena tidak mendapatkan respon, Belanda benar-benar melaksanakan ancamannya. Jum’at subuh tanggal 10 Juni 1949 Belanda menyisir ke arah Koto Tuo dan membakar seluruh bangunan yang mereka temui.

Beruntung, sejak ultimatum dikeluarkan Belanda, masyarakat sudah banyak yang mengungsi sehingga korban jiwa tidak terlalu banyak.

Tercatat delapan orang warga Koto Tuo, Tanjung Pati dan Palutan yang belum sempat mengungsi gugur dalam peristiwa itu. Sementara jumlah rumah yang dibakar tercatat 110 rumah.

Tokoh masyarakat Koto Tuo lainnya, Dt. Maro mengatakan peringatan perisitiwa itu oleh masyarakat setempat telah dilakukan setahun sejak peristiwa itu terjadi. Sedangkan peringatan yang diikuti oleh Pemkab setempat baru sejak dua tahun terakhir.

“Kita berharap peringatan ini akan berlangsung setiap tahun dan tidak saja bersifat saremonial, tetapi juga diiringi dengan kegiatan yang bisa menggugah rasa nasionalisme masyarakat,” kata dia. (**/mko/jno)